Tampilkan postingan dengan label cerita inspirasif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita inspirasif. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Oktober 2015

BERI KESEMPATAN UNTUK BERBAGI KEBAIKAN

Sementara Ayang nonton TV, Meme sedang asyik di kamar mengatur pakaian yang akan dibawa dalam perjalan mereka kali ini yaitu ke Papuma, Jember, Jawa timur.
“Tidak usah bawa banyak-banyak. Secukupnya saja” kata Ayang kepada Meme.
“Iya, iya… wes tenang aja, Ayang tahu jadi aja!” sahutnya memasukkan satu-persatu kaos, celana, underwear, handuk, perlengkapan mandi….
“Walah…. Kok gak bisa satu tas ya?” pertanyaan itu meluncur dari bibir tipis Meme, tepatnya ditujukan untuk dirinya sendiri. Lalu mengeluarkan lagi beberapa bawaan kami itu dan mencoba mengaturnya lagi.
Rupanya suara Meme itu terdengar juga oleh ayang dari Ruang depan. kemudian bergeraklah Ayang ke arah kamar, berdiri di depan pintu sambil tersenyum. Sementara itu di dalam Meme makin larut dalam kegiatannya, sehingga Meme tidak sadar kalau sedang ada yang memperhatikannya. Karena mulai bingung untuk bisa mem-packing hanya satu tas, maka diambilnya satu tas lagi yang lebih kecil. 
Melihat pemandangan itu, Ayang mulai mendekati Meme yang mencoba mengeluarkan lagi beberapa perlengkapan dan dimasukan di tas yang satunya lagi…
“Sini….” Sambil menarik tas yang besar dan mengeluarkan kembali apa yang sudah diatur oleh Meme.
“Gini lho caranya…. Kalau menatanya seperti ini ya jelas tidak cukup satu tas. Nah kalo begini…. Lihat ya….” Ayang mulai asyik, dan semakin asyik menggulung pakaian ala backpacker yang siap bepergian, sambil berharap Meme memperhatikan dan belajar darinya.
Saat Ayang mengambil alih pekerjaan Meme, bukannya Meme memperhatikannya namun melemparkan tubuhnya dan tengkurap di ranjang. Dan wajah dengan mata sipitnya itu disembunyikan antara bantal dan guling, mulai meneteskan air mata. Meme menangis sesenggukan.
“Selesai…..!” seru Ayang sambil berdiri, sambil membalikkan badan lalu berseru “Nah… Me, ini kan…. bisa Cuma satu tas!” Dan……
“Me…. “ dihampirinya Meme yang tengkurap di ranjang
“Kenapa Me… hei, kenapa Me?” tangan Ayang yang mencoba memegang pundak Meme, dihalau.
“Hei… kamu kenapa?” Ayang bingung dengan yang sedang terjadi. Sementara dalam tangisnya bergetar….
“Iya…. Kamu memang pintar, aku bodoh. Kamu bisa semua… aku bodoh. Kenapa kamu dulu mau menikah dengan orang bodoh seperti aku!!” suaranya bergetar dengan air mata yang makin membasah.
Mak deg. Ayang terkejut. ia mulai mendekati Meme “Maaf, Maaf… Maaf Me..” dan mulai memeluk Meme. Tapi dihalau oleh Meme yang makin bergetar….
“Kamu jahat…. Meme, Cuma pengin melakukan ini Ayang. E…. kamu gak menghargai sama sekali. Membokar begitu saja apa yang sudah kuatur!! Iya aku ini memang bodoh!!” lalu kembali tengkurap dan menutup wajah kembali dengan bantal.
Ayang merebahkan dirinya ranjang, disamping Meme yang membelakanginya dengan isak tangisnya yang belum berhenti. Dalam diam hati Ayang jadi ramai, ramai oleh selftalk atas apa yang dilakukan. Selftalk atas peristiwa yang baru saja terjadi.
“Ya ampun…. Kenapa aku gak Tanya dulu, gak minta ijin dulu. Untuk membongkar dan menata ulang isi Tas?
“Ups… hah…. Iya, betapa sombong diriku, betapa sok bisa, sok nya aku”
“iya… memang selama ini aku mengerjakan semuanya sendiri. Aku sangat mandiri.”
“Tapi…. kenapa juga aku tidak memberi kesempatan pasangan ku untuk melakukan kebaikan, melayani suaminya…. Sekalipun sederhana, sekalipun tidak sehebat seperti yang aku bisa… kenapa… maaf, maaf saying hari kita mau pergi dan bersenang-senang. Dan aku yang merusak mood ini… maaf, maaf……………………..” 
**********
Bagi kita yang sering melakukan pelayanan, bagi orang yang biasa memberi tentu kita terbiasa dengan ungkapan memberi dengan tulus dan Ikhlas. Kita melayani, Kita memberi jadi sesuatu yang membahagia. Dan…… pertanyaannya sekarang:
Seberapa sering kita memberi kesempatan orang lain untuk berbuat kebaikan bagi kita, kepada komunitas kita? Dan menerimanya dengan tulus dan ikhlas?
Seberapa sering kita tergoda menjadi seperti Ayang, karena kita tahu yang lebih baik, pengin yang lebih sempurna sehingga kita melakukan sesuatu. Dan menamainya? antisipasi. Dengan alas an daripada nanti terlanjur gak karuan?
Bukanlah keliru mengantisipasi, bukanlah salah memberi solusi atas sebuah masalah. Episode Meme-Ayang kali ini menjadi reminder bagi kita, untuk memberi kesempatan orang lain untuk melakukan kebaikan kepada kita. Sehingga siapun mereka, apapun mereka juga mengalami kesempatan untuk bertumbuh denngan berbagi dalam pelayanannya.
Kalaupun kita membantu, mengevaluasi, memperbaiki apa yang orang lain berikan lakukan dengan tetap respek. Artinya bagaimana kita mencari cara untuk menunjukkan bahwa apapun yang mereka lalukan, mereka berikan kita respek, kita menghartgainya dan bukan sebaliknya.

Salam Senyum Sehat 2ejahtera,
Ambro

Senin, 31 Agustus 2015

Senyum Renyah Pemilik Toko Bangunan

Renyah sekali sapaannya setiap ada pengunjung yang datang. Senyum selalu mengembang sekalipun sedang bicara. Itu yang tergambar pada diri pria muda, seorang pemilik yang sekaligus penunggu sebuah took bahan bangun dekat rumah saya.
Sekitar empat kali kami datang ke toko tersebut mendapatkan sambutan yang sangat friendly. Dan kami perhatikan terjadi pertanyaan dan pernyataan yang umum tapi menarik bagi saya, antara lain:
“untuk apa? Dipakai dimana?”,
“ada harga sekian…? Ada juga harga sekian….?”,
“oh, kalo untuk itu……. pakai yang ini saja sudah cukup. Harganya juga lebih murah.”
“yang itu tidak ada, dan bisa gunakan yang ini. Begini caranya.”
Demikian cara pria pemilik toko bangun tersebut melayani . Dan dengan kegembiraan yang terpancar dari wajahnya sambil  terus melayani pengunjung toko. Sekalipun ada juga pengunjung toko setelah mendapat penjelasan tidak jadi membeli.
Nah yang menarik bagi saya seperti yang saya katakana tadi proses yang dilakukan tersebut. Peristiwa singkat itu mengingatkan kita dalam memberikan SERVICE. Dan pembelajaran dari pria yang sederha tersebut antara lain:
Pelajaran #1: Senyum dan Sapaan bersabat dari Pria itu.
Sapaan & Senyuman cenderung mencairkan dan menyegarkan suasana. Tantangannya, senyuman yang kita berikan tidak ditanggapi. Nah, kalau itu yang terjadi? Ya tetap saja lakukan berikan sapaan dan senyuman yang ikhlas. Bukankah “tersenyum itu adalah ibadah” dan Mother Teresa pernah berkata bahwa “Senyuman itu tanda kasih Allah.”
Pelajaran #2: Fokus untuk memberikan Solusi.
Pertanyaan atau dialog yang dilakukan tidak sekedar basa-basi, tapi memetakan kebutuhan calon pembeli lalu menawarkan solusi. Tantangannya, sering kali kita tergoda sesegera mungkin agar orang membeli produk atau menggunakan layanan kita. Maka sesegaralah juga temukan kebutuhan customer dan berikan solusi.
Pelajaran #3: Kerja dengan Gembira. 
Saat kita mengerjakan sesuatu dengan gembira, pekerjaan itu seolah mengelir dengan. Waktu jadi begitu cepat, menjadi lebih semangat. Seperti yang di kata dalam Amsal Salomo  “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” 
Jadi…. apapun pekerjaan kita, apapun profesi kita…. Mari, kita jaga hati untuk bergembira melaksanakan karya sehingga memancar sapaan dan senyuman yang berseri-seri sambil fokuskan pikiran untuk memberikan solusi dan bukan sebaliknya.

Salam Senyum, Selamat berkarya.
Ambro.

Rabu, 13 Mei 2015

3 TAMU

Pada suatu hari ada seorang Ibu yang baru pulang dari pasar melihat ada 3 orang berjanggut di halaman rumahnya. Ketiga pria itu terlihat letih dan lapar, ibu itu mengajak mereka masuk untuk makan, tapi mereka bertanya, "apakah suamimu sdh pulang ?"
"Belum" jawab Ibu itu....
"Kalau begitu kami tidak bsa masuk."

Ketika suaminya pulang, Ibu itu menceritakan tentang ketiga orang tsb, dan suaminya menyuruhnya mengajak ketiga orang itu untuk masuk ke rumah...

Ketika ibu menyuruh mereka masuk, salah seorang berjanggut itu berkata: "Yang itu bernama KEKAYAAN, yang itu KESUKSESAN dan nama saya CINTA .....
Kamu harus memilih salah satu dari kami untuk masuk ke dalam rumahmu, kami tidak bisa masuk bersamaan."

Ibu itu masuk ke dalam dan
menceritakan apa yang dikatakan orang itu, suaminya berkata: "suruh Kekayaan masuk, saya ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan."
Tapi Ibu itu berkata: "lebih baik Kesuksesan, biar semua pekerjaan kita slalu penuh dengan Kesuksesan." Anak2 mereka berkata: "lebih baik Cinta, biar rumah ini selalu penuh dengan
Cinta,"
Akhirnya semua setuju untuk
mengajak Cinta masuk...
Ibu itu kembali ke depan dan berkata, "yang bernama Cinta silahkan masuk."
Ketika orang yang bernama Cinta
berjalan masuk, kedua orang yang lain mengikutinya. Si Ibu heran dan berkata, "kami hanya mengundang
Cinta, kenapa kalian ikut?" Orang itu berkata, "Kalau Ibu memilih Kekayaan atau Kesuksesan, kami hanya bisa berjalan sendiri-sendiri...
Tapi karena Ibu memilih CINTA, kami berdua akan selalu mengikutinya kemanapun dia berjalan... Sebenarnya kami berdua ini buta, hanya Cinta yang bisa melihat dan menuntun kami kemanapun dan kapanpun juga....

Jalani hidup ini dengan cinta...
Dan bersyukurlah karena kita masih berada diantara orang-orang yang mencintai kita ......
Bukan orang-orang yang di butakan oleh Kekayaan atau Kesuksesan ......

NIAT BAIK caranya baik,
HASILNYA BAIK, Sehat+Bahagia+Sukses itu PILIHAN kita ......

Salam Senyum Syukur.
Berkah Dalem.

(kiriman WA dari Ko Aping, terima kasih Ko....)

Senin, 24 Januari 2011

Bila siap MENDAPATKAN, sudahkah juga siap KEHILANGAN ?

Sebuah Kisah yang diadaptasi dari The HealingStories karya GW Burns.
 


Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa
putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansia keluarganya morat-marit. 

Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan. Anak anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. 

Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu.
  Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. 

“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa.

Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran.

Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor.
  Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar. Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples.
 
Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru.
  Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima.

Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, 
“Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?" Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata,
“Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.


Refleksi:
cerita ini menginspirasi sebuah refleksi dari proses kehilangan/dirampok 250 dollar milik si pria tadi: 
"tidak ada menjadi ada lalu tidak ada lagi" atau "ada menjadi tidak ada"......... merasa kehilangan sesuatu

misalnya saja:
Usaha kecil-kecilan... menjadi maju.... bertambah besar.... tiba-tiba bangkrut karena sepi order atau ditipu atau difitnah.......
Membangun Karir... ketika mendapat promosi... tiba-tiba ada jegal dari belakang....

Membangun relasi sepasang kekasih: mulai kenalan, jatuh cinta, pacaran, tunangan.. eh pas siap mau nikah ditinggalkan... 

Atau bahkan yang sudah menikah...... hubungan renggang serumah tapi merasa bak terpisah tidak seperti dulu lagi... tidak seperrti biasa... 

Ibu-ibu: melahirkan, membesarkan, dan mendidik anak dengan baik...... e...setelah dewasa... setelah tidak serumah... jarang dan bahkan tidak pernah ditengok sang anak tercinta.... merasa dilupakan meski selalu berdoa untuknya 

masih banyak peristiwa, deretan cerita
dari ada menjadi tiada.... yang indah seolah rusak jadinya.......
hilang.... sirnah.......
hilang.... musnah....

dibuatnya sakit hati, kecewa, marah, bahkan trauma.... 
 
Dan ada beragam cara menyikapinya (kehilangan). Dari mulai marah-marah, menangis,  protes pada takdir, hingga bunuh diri........................
belajar dari pria yang tak punya apa-apa menemukan koin penyok sampai akhir mendapat 250 dollarnya...lalu dirampok.... 
dan berkata "Oh bukan apa-apa....." 

Bagaimana dengan kita
semudah itukah saat ada yang dirampok dari diri kita......jawabnya ada pada diri Anda

Bila siap MENDAPATKAN, sudahkah juga siap KEHILANGAN ? 
lalu kemudian bangkit kembali untuk terus berupaya, 
sekalipun dengan cara yang berbeda 
mendapatkan yang hilang kembali jadi ada... 
meski dalam wujudnya yang tidak persis sama.... 
dan membiarkan itu semua sebagai ANUGRAH 



Refleksi by ambro

cerita email dari Pak Andreas.

Jumat, 07 Januari 2011

Belajar BERSYUKUR atas apa yang ADA


Gambaran ini tercermin pada kisah seorang laki-laki paruh baya yang bermimpi mendapatkan warisan senilai AS$ 1 juta. Suatu pagi, karena merasa terhambat bangun, ia segera pergi ke kamar mandi. Ternyata air PAM tidak mengucur. Ketika akan memasak air untuk membuat sarapan dan kopi, kompornya tidak bisa dipakai lantaran kehabisan gas. Saat akan mengambil Koran pagi di teras rumah, kosong. Koran tidak diantar. Setelah berpakain rapi, ia mencegat taksi di depan rumah untuk berangkat ke kantor. Tidak ada satupun taksi yang muncul. “Aneh!”, pikirnya.  Mengapa kota menjadi senyap? Pria tersebut bertanya kepada seseorang yang tampak berjalan tergesa-gesa dari ujung jalan. “Apa yang terjadi?”.

Dengan nafas terengah-engah yang ditanya berteriak, “Anda belum mendengar? Hari ini semua warga kota mendapat warisan masing-masing AS$ 1 juta. Jadi, tak ada lagi orang yang mau bekerja.

“Hah!”, si penanya terlonjak kaget. Seketika ia terbangun dari tidurnya. Diam sejenak, oh ternyata semua ini hanya mimpi. 

Ia pun segera ke kamar mandi,. Syukurlah, air PAM mengucur dengan deras. Segar!. Setelah itu ia memanggang roti dan membuat kopi untuk sarapan. Enak!. Apalagi sambil baca Koran baru. Tak berapa lama ia keluar rumah, taksi langganannya sudah siap di depan rumah. Sesampainya di kantor, ia menjadi lebih bersemangat dalam bekerja.

*** REFLEKSI ***
Laki-laki tersebut memang tidak jadi memiliki AS $ 1 juta, karena hanya mimpi.
Dan tersadar....... betapa bersyukurnya sekalipun tak memiliki uang sebanyak yang ada dalam mimpinya. Namun...............
masih bisa menikmati kesegaran mandi pagi karena air PAM masih mmengucur,
masih bisa menikmati enaknya roti panggang & kopi hangat,
masih bisa menikmati infomasi dengan membaca koran pagi,
masih bisa menikmati layanan sopir taxi yang siap di depan rumahnya untuk mengantar ke kantor.

Keterjagaan dari mimpi AS $ 1 juta, menjadikan laki-laki lagi tersebut belajar bersyukur dari apa yang ada sehingga memungkin betapa nikmatnya yang sesungguhnya sudah tersedia.


Apa yang bisa membuat rutinitas hidup ini menyenangkan? 
Jawabannya, menikmatinya yaitu ketika kita bisa bersyukur atas apa yang ada, emua yang kita miliki.


Refleksi cerita by ambro


 picture from http://noelhood.blogspot.com/2010_05_01_archive.html

Rabu, 23 Desember 2009

The Lesson from Life

Ada seorang anak dari teman, sudah setengah tahun lulus Wisuda, tidak pergi mencari kerja, pagi tidur sampai siang, malam pergi main internet sampai tengah malam. Belakangan ini meminta uang kepada orang tuanya, mau pergi ke Amerika menuntut ilmu lebih dalam lagi. Teman ini bertanya kepada saya,mesti tidaknya dia membiarkan dia pergi. Saya menatap rambut teman saya yang banyak putihnya dalam dalam & berkata: "Jika kamu berniat agar anak kamu baik nantinya, biarkan dia pergi, tapi jangan kasih dia uang". Saya terpikir cerita keponakan saya. Dia adalah warga Amerika, dari kecil selalu berpikir mau jadi pengembara, ingin berkelana melihat lihat dunia luar, jadi ingin pergi berkeliling dunia, nanti setelah kembali mau melanjutkan sekolah di Universitas. Biarpun ayahnya seorang dokter, ekonomi keluarga memungkinkan, tetapi ayah ibunya tidak memberinya uang dan dia juga tidak memintanya dari mereka. Sesudah tamat SMA, maka dia segera pergi ke hutan Alaska untuk memotong kayu untuk menabung.

Karena di Alaska saat musim panas siang hari sangat panjang, matahari baru terbenam kira² tengah malam dan sebentar kemudian jam 3 subuh sudah terbit lagi. Jika dalam sehari dia bisa bekerja 16 jam, memotong kayu selama 1 musim, maka dia bisa menabung untuk keliling dunia selama 3 musim.

Maka setelah keliling dunia 2 tahun akhirnya kembali ke sekolah untuk meneruskan pelajaran di Universitas. Dan karena hal ini adalah dirinya sendiri yang memikirkan matang² & secara mendalam, maka jurusan pilihannya yang semestinya perlu 4 tahun untuk lulus, diselesaikannya dalam waktu 3 tahun. Setelah itu mulai mencari pekerjaan.
Karirnya cukup baik, bisa dibilang searah dengan arah angin, lancar naik terus sampai ke posisi Kepala Insinyur/ Manajer Teknik. Pada suatu saat dia bercerita kepada saya dan mengatakan hal di bawah ini yang mempengaruhinya seumur hidup.

Ketika dia bekerja paruh waktu di Alaska, pernah sekali dia dan temannya mendengar teriakan erangan serigala di atas gunung. Mereka sangat cemas dan mulai mencari cari, akhirnya menemukan seekor serigala betina terjerat
jebakan dan sedang merintih kesakitan. Terus dia memperhatikan alat jebakan besi yang unik dan tahu bahwa itu adalah milik seorang Pak Tua.

Pak Tua ini adalah amatiran, menggunakan waktu luangnya untuk menangkap binatang, kemudian menjual kulitnya untuk menambah kebutuhan dapurnya. Tetapi setahu mereka, si Bapak Tua tadi beberapa hari lalu karena serangan jantung telah diangkut pakai helikopter ke rumah sakit Ancrukhy untuk mendapatkan pertolongan dan dirawat sekarang. Dan serigala betina ini bakal mati kelaparan karena tidak diurus. Timbul keinginan dia melepaskan serigala betina itu tetapi serigala itu sangat ganas & garang sehingga dia tidak dapat mendekat. Dia juga mengamati ada tetesan susu dari serigala betina ini dan ini menandakan bahwa di sarangnya pasti ada anak² srigala. Dia & temannya menghabiskan banyak sekali tenaga & waktu untuk mencari sarang srigala, sampai menemukan 4 ekor anak serigala dan membawa mereka ke tempat serigala betina tadi untuk diberikan susu.
Dengan demikian bisa menghindarkan mereka dari bahaya mati kelaparan. Dia mengeluarkan bekal makanan sendiri untuk diberikan ke serigala betina sebagai makanan & mempertahankan hidupnya.

Malam hari masih harus berkemah di sana dekat serigala betina untuk menjaga serigala & keluarganya dari serangan binatang lain karena ibu serigalanya terjerat tidak bisa membela keamanan diri sendiri maupun anak anaknya. Hal ini terus berlangsung sampai hari kelima, saat dia mau memberi makan serigala betina, tiba² dia memperhatikan serigala tadi mulai meng-goyang²-kan ekornya. Kemudian dia tahu kalau dia sudah mulai mendapatkan kepercayaan dari serigala betina ini.

Akhirnya setelah berlalu 3 hari lagi, baru serigala betina mengizinkan dirinya didekati, membuka jeratan jebakan yang men jepitnya dan melepaskannya bebas kembali. Setelah bebas, serigala betina ini kemudian menjilat tangannya dan membiarkan dia memberikan obat luka di kakinya.

Terakhir serigala betina ini membawa anak² pergi, dengan sesekali memutar balikkan kepalanya melihat ke belakang ke arah dia. Dia terduduk di atas batu dan berpikir, jika seorang manusia bisa membuat seekor binatang buas seperti serigala menjilat tangannya dan menjadi temannya, apakah bisa tidak mungkin seorang manusia membuat manusia lain meletakkan senjatanya & berkawan? Dia bertekad di kemudian hari untuk berbuat baik & menunjukkan ketulusan hati kepada orang lain, karena dari kasus ini dia mempelajari bahwa dia terlebih dahulu menunjukkan ketulusan hati, maka lawan pasti akan membalasnya dengan ketulusan juga. (Sambil bergurau dia berkata, jika demikian saja tidak bisa, maka kalah sama binatang.)

Karenanya setelah masuk bekerja, di perusahaan dia berbaik hati kepada orang lain. Per-tama² selalu menganggap orang lain berniat baik, kemudian sendiri bersikap tulus, sering kali suka menolong orang lain, tidak berhati sempit & mengingat kesalahan kesalahan kecil orang lain.

Oleh karena ini setiap tahun dia selalu naik jabatan, promosinya cepat sekali. Yang paling penting adalah dia setiap hari melewati kehidupannya dengan sangat gembira, katanya orang yang membantu orang lain adalah lebih
gembira dibandingkan dengan orang yang menerima bantuan, memberi lebih baik daripada menerima.

Dia berkata kepada saya bahwa dia selalu berterima kasih atas pengalaman dia di Alaska dulu, karena ini membuat dia menerima rejeki kebajikan yang tak habis habisnya seumur hidup ini. Dan ini benar sekali, hanya sesuatu hal yang kita mau, yang bisa kita hargai, strawberry yang sudah mendapatkan embun baru akan manis, manusia yang sudah diasah kesulitan baru menjadi dewasa dan matang.

Jika ada seseorang yang tamat Universitas dan tidak tahu mau bekerja apa, maka harus membiarkan dia pergi keluar untuk diasah oleh sang kehidupan, tidak perlu memberikan dia uang, biarkan dia mencari makan dengan tenaganya, berikan dia 1 kesempatan untuk membuktikan kekuatan dirinya & mencicipi kehidupan, percaya dia pasti bisa mendapatkan sebuah pengalaman yang berguna seumur hidup.

Lamar Boschman - "I would rather my heart be without words than my words be without heart."


(kiriman dari Brigitta via email... thx fiend...)

Minggu, 30 September 2007

Bertindak, Bertindak, dan Bertindak Sampai Terjadi

“Saat aku kelas dua SD sudah senang membaca, sekalipun ibu tidak mampu membelikan untukku, karena dia seorang janda dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan” kata seorang temanku dengan antusias. Dia suka sekali membaca majalah intisari yang dibeli Oom-nya. “Wah banyak sekali yang aku dapat dari membaca. Dan dari membaca ini mula muncul sebuah keingin : suatu saat nanti, aku ingin mengunjungi kota New York, ingin jalan-jalan keluar negeri”. Padahal saat menginginkan itu, mengucapkan kata-katanya aja gak benar….dan selalu diingatkan, selalu dibenerkan oleh Oom-nya.
Dua puluh delapan tahun kemudian…….sebuah keingin, sebuah impinan jalan-jalan ke luar negeri dari seorang anak janda yang ekonominya pas-pas menjadi nyata. Rupanya bocah kelas dua SD ini sungguh menginginkannya. Selain bisa jalan-jalan keluar negeri, dia sekarang juga mempunyai jabatan yang penting di sebuah Akademi Sekretaris yang berkedudukan di Surabaya.
Dia mulai giat belajar bahasa Inggris karena ingin pandai bahasa Inggris dan ingin jadi doses bahasa Inggris. Belajar pertama kali di mana? Dia jawab belajar di rumah. Emang sudah ada les privat saat itu? “Les? Untuk makan saja seadanya, apalagi les. Ndak aku Cuma belajar dari TVRI program belajar Bahasa Inggris yang diasuh Bapak Anton itu lho……kan dulu kan Cuma ada TVRI.” Dan…..kemuan keras untuk terus belajar itu membawa hasil, dia merupakan pelajar terbaik di sokolahnya, SMA untuk pelajaran Bahasa Inggris. Apakah semudah itu, bocah kelas dua SD, anak seorang janda pas-pasan ini mewujudkan impiannya? Jawabnya adalah Sulit-Sulit-Gampang. Tentu saja jawaban dari pertanyaan terakhir ini tidak semudah yang diucapkan.
Sulit! Ya sulit memang sulit kalau hanya dipikirkan saja. Menjadi susah kalau cuma menjadi pertimbangan terus. Menjadi sukar kalau sekedar mencari-cari ini….itu…..alasan-alasan dan pebenaran untuk tidak mulai bertindak. Kuncinya adalah bertindak, bertindak, dan bertidak.
Belajar dari temanku, yang mempunyai impian bisa jalan-jalan keluar negeri, pandai bahasa Inggris, dan menjadi dosen bahasa Inggris adalah :
• Dia mempunyai mimpi dan keinginan yang kuat, jelas sekali sudah ditanamkan dalam pikirannya sejak kelas dua SD
• Dia focus pada bidang yang diminati, terus mengasah bidang yang diminati yaitu bahasa Inggris
• Dia mempunyai ketekunan dan kesabaran hingga impiannya terwujud. Sekali sekarang ekonomi tidak mampu tapi terus mengusahakan diri.
Kawan yang satu ini tidak pernah menunggu kondisi membaik tetapi terus bertindak sampai kondisi menjadi lebih baik. Dan hasilnya pun telah dirasakannya.


oleh Ambro

Sabtu, 15 September 2007

Memberi dari Kekurangan


Hari masih gelap karena mentari belum tampakkan sinarnya. Meskipun sepagi itu, di depan tempat aku tingal, tepat di depan pos kamling seorang ibu (sebut saja Bulik Tina, bukan nama sebenarnya) dengan tujuh anak sudah asyik dan sibuk menata dagangannya. Bulik2 Tina berjualan lontong mie1 dan makanan gorengan. Dan setiap jam 6 pagi semua dagangannya sudah siap untuk setiap pembeli yang singgah. Pelanggan yang biasa beli adalah tetangga-tetangga sendiri, selain itu juga banyak dari orang yang kebetulan lewat dan ingin mengisi perutnya sebagai sarapan pagi. Dengan sabar dan tak ketinggalan senyum tersungging dibibirnya dia layani setiap pelanggan yang datang.
Seperti business yang lain, ada kalanya rampai dan sering pula sepi sehingga dagangan tersisa banyak saat tutup. Selain itu banyak juga yang bayar mundur alias hutang. Meskipun begitu Bulik Tina tidak pernah ngundat-ngundat2, yang sering dilakukan biasa cuma berkata ”cepat bayar ya....”. Pernah juga ada yang belum bayar tapi mengaku sudah bayar, ada yang belum mengembalikan piring mengaku sudah mengembalikan. Nah kalau sudah begitu yang dilakukan adalah gali lubang tutup lubang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dengan cara meminjam uang dari Bank Suekan3 yang keliling dari kampung ke kampung.
Kehidupan ekonomi yang pas-pasan atau bahkan kekurangan tidak menghalangi Bulik Tina untuk berbagi, memberikan sesuatu untuk orang lain. Memang di kampung dia tidak bisa memberikan sumbangan yang banyak tapi selalu melunasi iuaran kampung tepat waktu, selalu ikut menyumbang jika ada tetangga yang berduka, punya hajat atau melahirkan. Dan sumbangan, pemberian dari Bulik Tina yang paling berharga adalah kehadirannya dia dalam pengajian ibu-ibu PKK. Dengan suara yang enak didengar telinga dia pimpin pengajian untuk memuji asma Allah dalam shalawat dan dzikir.
Di tengah kesibukan mengurusi rumah tangga, di selah-selah waktu menyiapkan jualan, yang bisa jadi secara fisik memang membuat lelah tapi seseorang Bulik Tina memilih untuk dapat tetap memberikan sesuatu, memberikan nilai lebih dalam kehidupannya. Yaitu dirinya sendiri, suaranya, kemampuannya mendaraskan ayat-ayat Al’quran maupun membacakan hadits Nabi.
Sesungguhnya Bulik Tina telah memberi lebih banyak daripada sekedar uang sumbangannya karena dia memberikan dari kekurangannya. Ketika dia sudah lelah dari berjualan dan mengurusi rumah tangga, dia masih menyediakan waktu untuk memimpin pengajian ibu-ibu PKK. Katanya pada sautu kesempatan ”Ini kan ibadah, mesti ikhlas. Lelah bekerja? Nggak juga....senang juga kok.....” Inilah pemberian, pemberian dari kekurangan seperti Janda Miskin dalam Bible yang tersebut di atas yaitu ”Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”
Jika ada kegiatan di lingkungan tempat tinggal atau di tempat kerja atau dalam aktivitas di Masjid, Gereja, Wihara, Pura; misalnya kerja bakti, bakti sosial atau peringatan hari besar, kontribusi yang paling mudah kita berikan ialah donasi atau sumbangan berupa uang dan tidak perlu hadir dan terlibat karena kesibukan kita, jadwal kita yang padat. Punya uang banyak beri banyak dan kalau punya sedikit beri sedikit. Kalau seperti itu memang lebih mudah dan praktis. Tapi pertanyaan yang perlu diajukan itukah semangat atau jiwa yang berkelimpahan ”Itukah manifestasi dari memberi dari kekurangan?
Nah, silahkan Anda sendiri yang memilih aktivitas atau tindakan sebagai manifestasi semangat berkelimpah : seulas senyum, pujian yang tulus, telinga untuk mendengar, ide-ide kreatif; ini hanya contoh kecil dari memberi dari kekurangan, karena semua itu sudah tersedia dalam diri kita dan menunggu untuk dibagikan.


Salam,
Ambro