Senin, 14 November 2011

Nasi Goreng Spesial dari Pak Hadi

Suatu saat, saya bermain ke rumah Tasya. Sementara saya masuk rumahnya, saya melihat raut muka dan gerak-geriknya menunjukkan lagi bingung.
“Bro, ada ide apa untuk acaraku besok?” tanya Tasya.
“Buat acara apa?” tanyaku balik.
“Sabtu besok itu, aku diminta mengurus acara ferewell party salah satu bos ku.” Jawabnya sambil mengaruk-garukkan ballpoint di kepalanya.

“Terus... masalahnya apa?” aku memancing dia supaya mau bercerita.
“ya itulah... aku masih binggung mau dibuat gimana acaranya. Kemarin, aku sudah tawari bos untuk masak buat nasi goreng di acara tersebut, karena beliau gemar banget buat nasing goreng.” Cerita Tasya.
sip... Good idea! Tapi sebentar.... sepengetahuan kamu kalau acara farewell party itu gimana?” pertanyaan ini aku ajukan untuk menyamakan persepsi kami.
“Yang aku tahu, orang yang akan berpisah atau pergi di tempatkan yang baru akan kita pestakan, terus kami mengucapkan terima kasih untuk segala kontribusi selama berada di cabang kami. Ya begitu lah.. umumnya gitu kan?”  Tasya berpendapat.
“Tasya... bagaimana kalau kamu buat acara yang berbeda dibanding farewell party pada umumnya?” “Terus, terus... dibuat seperti apa?” sela Tasya.
“Begini.... acara pada umumnya kan sudah kamu bilang tadi. Nah, dibuat berbeda maksudku dibalik idenya. Ntar, bos kamu yang mau pindah itu yang jadi maskot acara dan paling berterima kasih sudah berada di cabang sekarang ini.”

Sebelum aku melanjutkan Tasya sudah menyerbukan pertanyaan-pertanyaan “lalu konkritnya gimana? Acara dirancang seperti apa? Gimana supaya tidak membosankan? Gimana Yang singkat tapi berkesan?”
Oke.... tadi kamu ada ide Bos kamu masak nasing goreng. Itulah yang ku katakan good idea! Memasak, membagikan nasi goreng dan meniokmatinya bersama-sama menjadi acara inti.”
“Terus...terus..??”
“Kira-kira... Bos kamu merasa berkembang atau di cabang kamu sekarang ini? Nanti tolong diskusikan dengan beliau. Jika beliau berkembang, patut berterima kasih pada siapa saja yang ada di cabang ini. Masak nasi goreng hanya simbol dari proses yang di alami Bos kamu. Siapa namanya?”
“Pak Hadi” jawab Tasya.
“Wajan simbol dari organisasi atau cabang sekarang ini. Sedikit minyak atau margarin lalu Tumis bawang adalah proses yang sudah ada sebelum Pak Hadi datang. Kemudian kehadiran Pak hadi saat pertama kali hadir di cabang ini ibarat nasi putih. Nasi putih siap dinikmati dengan lauk dan sayur apa saja. Namun yang menarik ada proses yang lebih, yaitu itu yang menjadikan Pak Hadi lebih dari saat pertama kali datang. Dengan berproses seperti nasing goreng ditambahi bumbu, diaduk, dipanasi sampai bumbu merata dan nasi goreng siap saji. Bukan lagi nasi putih, tapi nasi nasi goreng.”

Wauw.. thanks Bro... sip-sip, nanti masaknya di atas panggung, dengan back drop ucapan terima kasih untuk segenap tim di cabang ini. Lalu memasak sambil bernyanyi yang juga hobby dia, ditambah lagi saat memercikkan bumbu dibubuhi dengan doa dan itulah nasi goreng bumbu cinta. Seperti cinta yang sudah dialami Pak Hadi selama beberapa Tahun di cabang ini” sambung Tasya penuh antusias sambil mencorat-coretkan ballpoint pada kertas HVS kosong.

****

Di akhir acara farewell party semua yang hadir menghampiri Pak hadi ada yang sekedar berjabat tangan, aku yang memeluk, ada juga yang memeluk erat dengan tetesan air mata.

Esok harinya di kantor Tasya, Pak Hadi memang sudah pindah ke cabang yang lainnya. Namun spirit-nya menjadi bermakna bagi yang lain dan kerendahan hatinya sungguh luar biasa.
“saya bukanlah apa-apa dan saya tidak menjadi siapa-siapa jika  tidak ada wajan yang luar biasa menghantar panas kompor. Jika tidak ada organisasi ini yang memampukan saya jadi seperti sekarang ini. Tertebih lagi upaya teman-teman tim menaburi bumbu, mengaduk dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang selalu membangunkan saya, memberi semangat saya. Sekalipun tidak jarang membuat situasi tegang, situasi tidak enak... toh akhirnya bisa kita lewati semua satu persatu-satu, bahkan ada saat harus tertatih-tatih. Dan itu semua menjadi saya menjadi berbeda, membentuk saya menjadi lebih berdaya. Seperti Nasi putih yang di masukkan ke wajan gorengan ini, sekarang tidak sekedar nasi putih, tapi jadi nasi goreng sambel goreng ati... semoga semuanya jadi semakin berarti, menjadi semakin sehati dalam mewujudkan misi. Terima kasih.” Demikian cuplikan saat Pak Hadi menggoreng nasi.

“Hehehe... nasi goreng bumbu cinta dari Pak Hadi sungguh jadi inspirasi sekalipun beliau sudah tidak lagi di sini. Di cabang ini.” Dalam diam Tasya tersenyum tersenyum dalam hati untuk apa yang sudah di alami saat-saat bersama Pak hadi.


Surabaya, 14 Nopember 2011
By Ambrosius bata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar