Selasa, 27 Oktober 2015

BERI KESEMPATAN UNTUK BERBAGI KEBAIKAN

Sementara Ayang nonton TV, Meme sedang asyik di kamar mengatur pakaian yang akan dibawa dalam perjalan mereka kali ini yaitu ke Papuma, Jember, Jawa timur.
“Tidak usah bawa banyak-banyak. Secukupnya saja” kata Ayang kepada Meme.
“Iya, iya… wes tenang aja, Ayang tahu jadi aja!” sahutnya memasukkan satu-persatu kaos, celana, underwear, handuk, perlengkapan mandi….
“Walah…. Kok gak bisa satu tas ya?” pertanyaan itu meluncur dari bibir tipis Meme, tepatnya ditujukan untuk dirinya sendiri. Lalu mengeluarkan lagi beberapa bawaan kami itu dan mencoba mengaturnya lagi.
Rupanya suara Meme itu terdengar juga oleh ayang dari Ruang depan. kemudian bergeraklah Ayang ke arah kamar, berdiri di depan pintu sambil tersenyum. Sementara itu di dalam Meme makin larut dalam kegiatannya, sehingga Meme tidak sadar kalau sedang ada yang memperhatikannya. Karena mulai bingung untuk bisa mem-packing hanya satu tas, maka diambilnya satu tas lagi yang lebih kecil. 
Melihat pemandangan itu, Ayang mulai mendekati Meme yang mencoba mengeluarkan lagi beberapa perlengkapan dan dimasukan di tas yang satunya lagi…
“Sini….” Sambil menarik tas yang besar dan mengeluarkan kembali apa yang sudah diatur oleh Meme.
“Gini lho caranya…. Kalau menatanya seperti ini ya jelas tidak cukup satu tas. Nah kalo begini…. Lihat ya….” Ayang mulai asyik, dan semakin asyik menggulung pakaian ala backpacker yang siap bepergian, sambil berharap Meme memperhatikan dan belajar darinya.
Saat Ayang mengambil alih pekerjaan Meme, bukannya Meme memperhatikannya namun melemparkan tubuhnya dan tengkurap di ranjang. Dan wajah dengan mata sipitnya itu disembunyikan antara bantal dan guling, mulai meneteskan air mata. Meme menangis sesenggukan.
“Selesai…..!” seru Ayang sambil berdiri, sambil membalikkan badan lalu berseru “Nah… Me, ini kan…. bisa Cuma satu tas!” Dan……
“Me…. “ dihampirinya Meme yang tengkurap di ranjang
“Kenapa Me… hei, kenapa Me?” tangan Ayang yang mencoba memegang pundak Meme, dihalau.
“Hei… kamu kenapa?” Ayang bingung dengan yang sedang terjadi. Sementara dalam tangisnya bergetar….
“Iya…. Kamu memang pintar, aku bodoh. Kamu bisa semua… aku bodoh. Kenapa kamu dulu mau menikah dengan orang bodoh seperti aku!!” suaranya bergetar dengan air mata yang makin membasah.
Mak deg. Ayang terkejut. ia mulai mendekati Meme “Maaf, Maaf… Maaf Me..” dan mulai memeluk Meme. Tapi dihalau oleh Meme yang makin bergetar….
“Kamu jahat…. Meme, Cuma pengin melakukan ini Ayang. E…. kamu gak menghargai sama sekali. Membokar begitu saja apa yang sudah kuatur!! Iya aku ini memang bodoh!!” lalu kembali tengkurap dan menutup wajah kembali dengan bantal.
Ayang merebahkan dirinya ranjang, disamping Meme yang membelakanginya dengan isak tangisnya yang belum berhenti. Dalam diam hati Ayang jadi ramai, ramai oleh selftalk atas apa yang dilakukan. Selftalk atas peristiwa yang baru saja terjadi.
“Ya ampun…. Kenapa aku gak Tanya dulu, gak minta ijin dulu. Untuk membongkar dan menata ulang isi Tas?
“Ups… hah…. Iya, betapa sombong diriku, betapa sok bisa, sok nya aku”
“iya… memang selama ini aku mengerjakan semuanya sendiri. Aku sangat mandiri.”
“Tapi…. kenapa juga aku tidak memberi kesempatan pasangan ku untuk melakukan kebaikan, melayani suaminya…. Sekalipun sederhana, sekalipun tidak sehebat seperti yang aku bisa… kenapa… maaf, maaf saying hari kita mau pergi dan bersenang-senang. Dan aku yang merusak mood ini… maaf, maaf……………………..” 
**********
Bagi kita yang sering melakukan pelayanan, bagi orang yang biasa memberi tentu kita terbiasa dengan ungkapan memberi dengan tulus dan Ikhlas. Kita melayani, Kita memberi jadi sesuatu yang membahagia. Dan…… pertanyaannya sekarang:
Seberapa sering kita memberi kesempatan orang lain untuk berbuat kebaikan bagi kita, kepada komunitas kita? Dan menerimanya dengan tulus dan ikhlas?
Seberapa sering kita tergoda menjadi seperti Ayang, karena kita tahu yang lebih baik, pengin yang lebih sempurna sehingga kita melakukan sesuatu. Dan menamainya? antisipasi. Dengan alas an daripada nanti terlanjur gak karuan?
Bukanlah keliru mengantisipasi, bukanlah salah memberi solusi atas sebuah masalah. Episode Meme-Ayang kali ini menjadi reminder bagi kita, untuk memberi kesempatan orang lain untuk melakukan kebaikan kepada kita. Sehingga siapun mereka, apapun mereka juga mengalami kesempatan untuk bertumbuh denngan berbagi dalam pelayanannya.
Kalaupun kita membantu, mengevaluasi, memperbaiki apa yang orang lain berikan lakukan dengan tetap respek. Artinya bagaimana kita mencari cara untuk menunjukkan bahwa apapun yang mereka lalukan, mereka berikan kita respek, kita menghartgainya dan bukan sebaliknya.

Salam Senyum Sehat 2ejahtera,
Ambro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar